"Ini adalah teknik pernapasan Jade Serene Flow. Dengan teknik ini, kau bisa menyerap energi spiritual dari alam dengan lebih lembut dan stabil," jelas Lynx sambil membuka gulungan tersebut.

Jelita menatap tulisan di gulungan itu dengan mata penuh kekaguman. Ia tak pernah membayangkan akan belajar sesuatu yang begitu luar biasa.

"Mulailah dengan duduk bersila dan atur napasmu," perintah Lynx dengan tenang. "Rasakan udara di sekitarmu, bayangkan energi spiritual mengalir masuk ke dalam tubuhmu setiap kali kau menarik napas."

Jelita menurut. Ia menutup matanya dan mulai menarik napas perlahan, mencoba merasakan energi di sekelilingnya. Awalnya, tidak ada yang terjadi, tetapi dengan bimbingan Lynx yang terus-menerus mengoreksi cara bernapasnya, perlahan-lahan ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Seperti embusan angin lembut yang masuk ke tubuhnya, menyebar perlahan ke seluruh aliran nadinya.

"Bagus," Lynx mengangguk puas. "Jangan terburu-buru. Lakukan ini setiap hari."

Hari demi hari berlalu. Setiap malam, mereka beristirahat di tempat yang aman, dan setiap pagi serta sore, Jelita terus berlatih. Lynx selalu mengawasinya dengan seksama, memastikan bahwa energi spiritual yang diserapnya berjalan dengan benar.

Pada hari keempat, ketika Jelita tengah berkultivasi, Lynx yang duduk tak jauh darinya tiba-tiba merasakan riak energi spiritual kecil yang mulai terbentuk di tubuh Jelita.

"Menarik," gumamnya sambil menyilangkan tangan di dada.

Beberapa saat kemudian, Jelita membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa hangat dan lebih ringan dari sebelumnya. Ia menatap tangannya sendiri, merasakan perubahan yang belum pernah ia alami sebelumnya.

"Xiao Ling... aku merasa berbeda," katanya dengan nada takjub.

Lynx tersenyum. "Selamat, kau telah mencapai tahap Forging Qi tingkat satu."

Jelita menatapnya dengan mata berbinar. "Benarkah? Aku sudah menjadi seorang kultivator?"

Lynx mengangguk. "Ya. Dengan ini, kau tidak lagi hanya manusia biasa. Setidaknya, kau bisa mulai menjaga dirimu sendiri."

Jelita mengepalkan tangannya dengan penuh semangat. "Aku tidak menyangka aku bisa melakukan ini! Xiao Ling, terima kasih!"

Lynx tertawa kecil. "Kita masih dalam perjalanan panjang. Kau harus terus meningkatkan kekuatanmu."

Jelita mengangguk penuh semangat. Ia bertekad untuk terus berlatih, karena ia tahu—di dunia ini, kekuatan adalah segalanya.

Tanpa terasa empat hari berlalu sejak mereka meninggalkan desa Lianhua, hingga suatu saat, Lynx mendengar suara pertarungan dari jauh.

“Ada apa, Xiao Ling?” tanya Jelita, melihat perubahan ekspresi Lynx yang serius.

“Aku mendengar suara mencurigakan,” jawab Lynx, tetap fokus. Ia kemudian mengambil sebuah kertas khusus yang dibelinya dari sebuah toko di desa Lianhua. kertas ini memiliki kekuatan dan ketebalan lebih baik daripada kertas biasa dan seringkali digunakan untuk membuat formasi tingkat rendah. Lynx mulai membuat formasi di atas kertas tersebut. Formasi ini mirip seperti yang pernah dibuatkannya untuk Leena, tetapi memiliki satu perbedaan.

“Di kertas ini tersimpan energiku. Dengan ini, aku akan segera mengenalimu ke mana pun kau pergi. Selain itu, jika kamu merobek kertas ini, aku akan segera tahu kamu dalam bahaya. Bawalah benda ini selalu bersamamu,” kata Lynx sambil menyerahkan kertas formasi itu dengan penuh keyakinan. "Selain itu jika kamu meletakkannya diatas telapak tanganmu, maka kertas ini akan bergerak ke arah dimana aku berada. Kamu bisa menemukanku dimanapun aku berada."

Tanpa menunggu jawaban, Lynx segera bergerak cepat menuju sumber suara, meninggalkan Jelita sendirian di belakang. Dalam sekejap, ia melesat, berusaha mendekati keributan itu.

Saat mendekati sumber suara, Lynx melihat puluhan orang bertarung dengan sengit. Ia langsung melompat ke atas pohon tinggi, memanjat dengan gesit, dan memperhatikan dengan seksama apa yang terjadi di bawahnya.

Lynx berdiri di kejauhan, mengamati bekas pertarungan yang sudah berlangsung di hadapannya. Terdapat dua kelompok dengan perbedaan mencolok saling berhadapan. Salah satunya adalah pasukan berseragam rapi yang tampak disiplin, dengan kondisi terluka, sementara prajurit lainnya, rebah di tanah. Lynx memgokuskan penglihatannya dan melihat mereka masih hidup, hanya tidak sadarkan diri dan terluka.

Sedangkan lawan mereka adalah sekelompok pria bercadar hitam yang jelas ingin menyembunyikan identitas mereka. Dengan ketajaman penglihatannya, Lynx dapat melihat dari cara mereka melangkah dan gerakan kecil yang dilakukan kelompok bercadar hitam, cepat dan terlatih, menandakan bahwa mereka bukan sekadar bandit biasa.

"Dari pancaran energi mereka, beberapa di antara mereka jelas seorang kultivator," batin Lynx. "Tapi ini bukan urusanku. Aku sebaiknya tidak ikut campur."

Meski begitu, matanya terus mengamati situasi. Ia melihat seorang gadis muda yang diapit oleh dua pria bercadar. Tangan gadis itu terikat, wajahnya dipenuhi kemarahan, tetapi ada sedikit ketakutan di matanya.

"Lepaskan Nona Li Wei!" teriak seorang pria dari kelompok berseragam. Dia tampak lebih berpengalaman dibanding yang lain, pakaiannya sedikit berbeda, dan tingkat kultivasinya jauh lebih tinggi dari prajurit lainnya.

"Komandan Jiang, jika kau ingin menyelamatkan putri Walikota, maka penuhi dulu permintaan kami!" sahut pria besar bercadar yang tampaknya pemimpin kelompok penculik itu.

"Kalian licik! Sengaja mengalihkan perhatianku agar kalian bisa menculiknya!" bentak Komandan Jiang, matanya menyala penuh kemarahan. "Kalau kalian punya nyali, lawan aku secara langsung!"

Lynx mengangkat alisnya, tertarik dengan percakapan itu. "Jadi gadis itu putri walikota?" pikirnya.

Li Wei, putri dari Walikota Huoling, dikenal sebagai gadis lincah yang memiliki kultivasi master foundation perunggu tahap awal. Meski masih muda, dia sudah memiliki kemampuan bertarung yang cukup baik. Namun saat ini, dengan tangannya terikat dan dikepung oleh para penculik, dia tak bisa berbuat banyak.

Kota Huoling sendiri bukanlah kota besar, tetapi jumlah penduduknya mencapai ratusan ribu orang. Walikotanya, Li Cheng, dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana. Karena kesibukannya belajar ilmu pemerintahan dan memimpin kota, dia tidak sempat berlatih sehingga kemampuan Kultivasi di usianya yang menjelang lima puluh tahun, hanya ada di master foundation perak tingkat awal. Berkat kepemimpinannya, kota itu menjadi cukup makmur, dengan jaringan dagang yang luas hingga ke desa-desa sekitarnya.

Namun, keluarga Li memiliki masalah besar. Putri sulung mereka, Li Mei, menderita penyakit misterius selama setahun lebih. Tabib terbaik sudah didatangkan, tetapi tak satu pun yang mampu menyembuhkannya. Hingga akhirnya, seorang tabib tua mengungkapkan bahwa satu-satunya harapan kesembuhan terletak pada sebuah tanaman spiritual langka yang akan segera berbunga di Hutan Fenglin. Tanaman spiritual ini hanya ada satu dan berbunga setiap sepuluh tahun sekali, sehingga kesempatan mereka untuk mendapatkannya hanya satu kali ini. Selain tanaman spiritual itu, diperlukan juga Alchemist minimal tingkat tiga untuk dapat memurnikannya menjadi Pil.

Mendengar hal itu, Walikota segera mengerahkan pasukannya untuk mencari tanaman tersebut. Mengenai alchemist, walikota Li bisa meminta bantuan ke kerajaan. Li Wei, yang sangat menyayangi kakaknya, bersikeras ikut dalam pencarian itu. Ia menganggap ini juga sebagai kesempatan untuk keluar dari rumah dan merasakan petualangan di luar kota. Li Wei sendiri sebenarnya murid dalam dari sekte Api Langit. Karena jasa orang tuanya dan rekomendasi dari kerajaan, Li Wei dapat dengan cepat menjadi murid dalam dan menjadi murid kesayangan karena sifatnya yang aktif dan periang. Namun saat mendengar kakaknya sakit, dia bersikeras meminta izin untuk menjaga kakaknya, dia tidak mau menjadi penyesalan karena tidak pernah menjaga kakaknya.

Gurunya, dan pimpinan sekte, terpaksa mengijinkannya untuk menghindari munculnya iblis hati. Diantarkan oleh kakak seperguruannya, Ling Mei, Li Wei diantarkan pulang ke rumah Walikota. Dengan catatan, Li Wei hanya diizinkan pergi selama satu tahun, karena akan mengganggu latihan kultivasinya. Setelah satu tahun, kakak perguruannya Ling Mei, akan datang kembali untuk menjemputnya.

Saat Li Wei pulang, kakak seperguruannya sudah mencoba mengobati dan memberikan pil untuk memulihkan kondisinya, namun tidak berhasil. Penyakit yang diderita kakaknya, tidak di ketahui penyebabnya.

Namun sekarang, keadaannya justru berbalik. Bukannya membantu menyembuhkan kakaknya, dia malah menjadi tawanan.

Ketika rombongan Li Wei memasuki bagian terdalam Hutan Fenglin, suasana yang awalnya tenang tiba-tiba berubah menjadi mencekam. Angin berdesir pelan, membawa serta firasat buruk yang menusuk perasaan Komandan Jiang.

